Jumat, 10 Oktober 2008
YANG MAHA LUAS DAN MAHA BESAR
oleh : Ishmael Yahalah Bukan tentang tuhan, bukan! Tapi sebuah pabrik yang begitu besar dan luas. Di dalamnya terdapat begitu banyak orang yang bekerja. Dan bekerja adalah satu-satunya cita-cita dalam kehidupan pekerjanya, melampaui hidup itu sendiri. Menyedihkan!
Hari belum terang dan embun belum juga menguap. Di sebuah rumah kompleks perumahan sederhana pinggir timur Kota Makassar, sebuah aktifitas yang tiap harinya sama persis, kembali diulangi. Zulkarnain, 34 tahun, karyawan sebuah perusahaan swasta terkemuka di Sulawesi Selatan, telah bersiap berangkat kerja.
Ia bangun sejam sebelumnya, shalat subuh dan menonton berita pagi di televisi sambil menikmati kopi susu buatan sang istri. Arniati, 30 tahun, bangun lebih pagi lagi karena mesti mempersiapkan sarapan dan kebutuhan suami. Hari ini seragam Zulkarnain mesti disetrika, “Biar rapi dan tidak dimarahi bos”, begitu katanya.
Setelah Zulkarnain berangkat, Arniati juga mesti mengurus Aldi, 7 tahun, yang mesti ke sekolah. Anaknya yang baru kelas dua SD itu mesti sarapan, dimandikan, dan diantar ke sekolah.
Rutinitas itu diulang tiap hari. Zulkarnain tiba di rumah hampir pukul 6 petang. Seharian kerja telah membuatnya penat dan lelah. Menonton TV menjadi pilihan hiburan paling murah meriah. Jalan-jalan ke mal biasanya dilakukan di akhir pekan, tapi tidak setiap pekan. Selepas semua itu, Zulkarnain yang lelah seharian bekerja harus istirahat agar keesokan hari terus bisa bekerja.
Keluarga Zulkarnain adalah gambaran umum keluarga masa kini. Kehidupan harian yang keesokan harinya dipertahankan untuk terus bekerja agar dapat bertahan hidup.
Siapakah kelas pekerja hari ini?
Terutama kalangan Kiri tradisional, pandangan umum tentang kelas pekerja adalah para buruh industrial, atau kerah biru yang bekerja di pabrik. Kadang pula memasukkan pekerja non-industrial seperti perawat dan kerah putih. Jika memakai perspektif tersebut berarti hanya Zulkarnainlah yang berkontribusi pada proses produksi. Statusnya sebagai pekerja upahan jelas berbeda dengan Arniati yang tidak memiliki majikan, apalagi anaknya yang belia. Zulkarnain bekerja dan menghasilkan nilai-lebih, sementara Arniati sama sekali tidak menghasilkan kapital, pula tidak berada dalam hubungan produksi.
Definisi tersebut jelas gagap ketika diperhadapkan pada perkembangan kapitalisme yang semakin canggih dan tidak lagi hanya beroperasi di pabrik maupun tempat kerja. Definisi tersebut menjebak pada pembagian kelas antara yang 'tereksploitasi' dan kelompok yang 'tertindas'. Sang suami yang tereksploitasi, sementara si istri 'sekedar' tertindas. Saat sepasang suami-istri berada dalam himpitan hidup yang sama, penindas yang sama, dan kemonotonan hidup yang sama, berkat definisi yang ortodoks mereka dipisahkan berdasarkan kepentingan ekonomis.
BOX : Perkembangan Kapitalisme Berdasarkan Komposisi Pekerja A. Era Pertama adalah era 'pekerja profesional', sejak pertengahan abad 19 hingga meletusnya Perang Dunia. Periode klasik industrialisasi ini didominasi oleh pekerja produktif (yang memiliki keahlian). Misalnya sebuah pabrik mobil yang akan memproduksi mobil, diisi oleh pekerja yang memang ahli membuat mobil bagian demi bagian. Setiap pekerja saat itu pandai membuat mesin, body, hingga kemudi. Namun karena tenaga produktif masih relatif sedikit, maka hasil produksi juga relatif terbatas. B. Era Kedua adalah era 'pekerja massal', berkembang menjelang tahun 20-an hingga akhir 60-an. Ciri-cirinya proses kerja semakin terspesialisasi, mengkhusus, mengalienasi, dan menghasilkan produk secara massal. Kombinasi Taylorisme, Fordisme dan Keynessianisme. Misalnya ditemukannyacara produksi yang efisien, massal, dan hanya membutuhkan sedikit pekerja ahli. Seorang pekerja tidak perlu ahli mesin, dia hanya cukup mengerjakan roda karena yang membuat mesin juga tidak perlu mengetahui tentang ban. Untuk membuat lebih mudah lagi, para pekerja bagian ban pun terbagi hingga level paling kecil, seperti misalnya hanya untuk memasang baut. Sehingga setiap orang tanpa keahlian khusus dapat diserap dalam kerja-kerja massal. C. Sementara era ketiga, yakni zaman sekarang adalah era 'pekerja sosial'. Era ini ditandai dengan peleburan pabrik ke dalam masyarakat yang dikenal dengan konsep “Pabrik Sosial”. Masyarakat atau kehidupan sosial disetting sebagaimana pabrik fisik/mekanik. Dalam era ini kerja dan pekerjanya tidak hanya di pabrik/kantor namun meluas ke seluruh dimensi kehidupan sosial, dan seluruh aktifitas telah dikonversi menjadi 'kerja' untuk mereproduksi kapital. Sebuah mobil tidak diproduksi di pabrik atau kantor saja, tetapi melibatkan kehidupan domestik dan sosial yang turut berkontribusi melalui reproduksi tenaga kerja.
Pabrik Sosial dan Sosialisasi Pekerja Mario Tronti memberikan catatan awal bagaimana kapitalisme bertranformasi, bahwa “hal paling maju dari kapitalis adalah bahwa produksi nilai-lebih (surplus value) berlangsung dimana-mana, melampaui sirkuit 'produksi-distribusi-pertukaran-konsumsi' yang terus berkembang; ini juga berarti hubungan antara produksi kapitalis dengan masyarakat borjuis, antara pabrik dengan masyarakat, antara masyarakat dengan negara, semakin melebur. Puncak perkembangan kapitalis adalah saat hubungan sosial menjadi hubungan produksi, dimana keseluruhan masyarakat menjadi perwujudan proses produksi. Singkat kata, keseluruhan kehidupan sosial tidak lain berfungsi sebagai pabrik, dimana pabrik memperluas dominasi kapital atas keseluruhan masyarakat”. Jika kapitalisme lampau diidentikkan dengan pabrik karena saat itu hanya pabriklah satu-satunya tempat kapitalis mengakumulasi kapital. Di pabrik atau pun kantor, majikan berkuasa penuh terhadap kehidupan pekerja. Menerapkan aturan, mendisplinkan, memperkerjakan dan memecat, serta mengambil keputusan tentang proses produksi bahkan ke seluruh kehidupan para pekerja. Setelah bel pulang dan melewati gerbang pabrik, kehidupan pekerja tidak lagi tersentuh dengan kekuasaan majikannya meski tidak sepenuhnya bebas karena harus menjalani kehidupan dalam hirarki dan dominasi dalam bentuk lain.
Pekerja hari ini adalah mereka yang berpartisipasi dalam reproduksi kapital. Tidak lagi dibatasi oleh dinding pabrik atau kantor, karena proses penciptaan kapital-kapital baru telah melebar ke kehidupan sosial, tidak lagi sekedar di tempat kerja. Pekerja juga disosialisasikan pada level sosial. Masyarakat menjadi pekerja bukan (saja) oleh rekrutmen formalmelamar, mengisi lowongan kerja, dst, tetapi melalui konversi kehidupan sosial menjadi sebuah pabrik.
Kehidupan Sebagai Kerja
Apa yang menjadi ciri khusus dalam Pabrik Sosial adalah keseluruhan kehidupan individu maupun sosial bermakna sebagai kerja, yaitu kerja untuk menciptakan kapital baru. Hampir tak satu pun aspek dalam hidup yang bukan merupakan kontribusi untuk penciptaan kapital baru. Kehidupan diposisikan berada di bawah kerja. Ini membuat sebagian besar waktu kita untuk 'bekerja'. Apa yang kita kenal sebagai kegiatan pasca-kerja, justru merupakan aktifitas kerja yang pasif. Aktifitas lain selain kerja direduksi menjadi hanya sekedar rekreasi (pemulihan). Perhatikan bagaimana 'waktu kerja' dan 'waktu luang' adalah hal yang tidak berbeda, sama-sama menciptakan kapital baru melalui produksi dan konsumsi. Dalam kehidupan sosial, rekreasi, kesehatan dan kesejahteraan, hingga pendidikan tidak lain sebagai hal yang dirancang untuk menunjang keuntungan kapital. Instrumen tersebut berfungsi untuk merawat kondisi sosial agar tetap tegak dan normal, demi vitalitas dan maksimalisasi kerja para pekerjanya.
Domestikasi Kerja dan Manufakturisasi Sektor Domestik
Kapital tidak perlu memerlukan tembok dan dinding raksasa di level sosial untuk membangun pabrik fisikal. Dalam rangka penciptaan tenaga kerja baru misalnya, keseluruhan rangkaian produksi cukup diintergrasikan dalam kehidupan domestik/rumah tangga. Dalam kehidupan domestik, tersedia tenaga kerja murah (bahkan gratis) dengan model pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah. Khususnya kaum perempuan, mereka bisa mengerjakan berbagai peran misalnya melahirkan generasi baru pekerja masa depan, membesarkan, mencukupi kebutuhan hidupnya, melayani suami (baca: pekerja) agar dapat kembali bekerja keesokan harinya. Mereka juga mesti mengatur keuangan keluarga agar tidak terjadi inflasi. Kesemua pekerjaan yang dilakukan oleh kaum perempuan tersebut tidak diupah, dan bertindak sebagai tenaga tak diupah bagi kapital.
Kehidupan domestik (keluarga inti) adalah landasan pembentuk nilai masyarakat kapitalis, disemaikannya pemberhalaan kerja sebagai satu-satunya narasi yang layak.
Komposisi Pekerja Sosial
Dalam Pabrik Sosial, pekerja tidak lagi dibedakan atas diupah atau tidaknya mereka, produktif atau tidak produktifnya. Ibu rumah tangga dan seluruh kerja-kerja domestiknya, yang dulunya tidak menjadi bagian proses produksi (oleh karenanya tidak diupah) adalah kelompok yang berkontribusi erat dalam reproduksi tenaga kerja. Kehidupan domestik bukan lagi tidak ada hubungannya dengan produksi, malahan berperan penting dalam penciptaan tenaga kerja dan kapital baru. Ke-tidak produktif-an kelompok pengangguran misalnya, bukan berarti tidak berkontribusi dalam penciptaan kapital-kapital baru. Dalam lansekap Pabrik Sosial, pengangguran misalnya, dapat menjadi instrumen oleh kapitalis untuk menciptakan nilai dan kondisi ekonomi dalam rangka memaksimalkan keuntungan maksimum yang bisa diraih pada level sosial. Hitung-hitungan ekonomi, inflasi, daya beli, persaingan kerja dan himpitan hidup telah mengaburkan perang yang sesungguhnya.
Bahkan mahasiswa/pelajar, masyarakat adat, petani subsisten, kaum minoritas, penyandang cacat, para jompo dan pensiunan memiliki fungsi masing-masing sebagai mesin dalam penciptaan kapital-kapital baru.
Inilah 'pabrik tanpa dinding' yang maha luas dan maha besar itu. Para proletariat, sebagaimana jutaan Zulkarnain dan Arniati, terus bekerja karena hanya itu pilihan yang disodorkan. Pilihan-pilihan untuk 'kehidupan lebih baik' sepanjang tetap memproyeksikan para proletariat takluk pada nasibnya, tidaklah lebih baik dari parodi perubahan. Dalam Pabrik Sosial, berganti pemerintah, berganti partai politik penguasa, berganti presiden sepanjang tidak menghalangi kapital terus menggelembung tidak layak disebut alternatif. Satu-satunya jalan realistis yang tersisa bagi proletariat yang ingin bebas, adalah menghancurkan pabrik ini!
“…karena tujuan dari setiap proletar adalah untuk tidak lagi menjadi proletar…” (Mario Tronti)
Label: Jurnal, Jurnal 1, Kelas Pekerja, Pabrik Sosial, Proletariat, Redefinisi
MENDEFINISIKAN ULANG PROLETARIAT
oleh : Ali Topan Marsono & Alfonso Sejak era industrialisasi, perpecahan kelas sosial semakin meruncing. Para borjuis menguasai alat-alat produksi sedang proletar terpaksa bekerja sebagai syarat bertahan hidup. Kelas proletar tidak mendapatkan profit dari perputaran kapital, juga tak memiliki nstrum atas hidupnya. Menurut Karl Marx, para proletarlah kelas pekerja modern, mereka tidak memiliki cara lain untuk bertahan hidup selain dengan menjual tenaga kerjanya dan bukan menjual produk seperti yang dilakukan para kapitalis. Jelas, proletariat adalah sebuah kelas sosial yang muncul seiring terciptanya relasi ekonomi baru, kapitalisme.
Di Eropa (tempat dimana relasi kapital muncul untuk pertama kali), kelas proletariat erat kaitannya dengan konsep labour, yaitu aktifitas yang dilakukan demi mendapatkan upah. Sementara work lebih spesifik pada aktifitas fisik. Di Indonesia, definisi work dan labour tidak memiliki perbedaan. Kedua-duanya dipakai untuk merujuk pada kerja. Diperparah dengan banyaknya istilah yang terkait dengan kerja, seperti karyawan, pegawai, buruh, dan sebagainya. Dalam konteks Indonesia, jelas hal ini mengaburkan siapa kelas proletar itu. Namun jika mengacu pada apa yang dikatakan Marx, tentu akan terlihat bahwa karyawan, pegawai, dan buruh adalah sama-sama proletar sebab semuanya menjual tenaga demi upah (meski istilah upah juga beragam). Dengan demikian, proletariat tidak lagi identik dengan pekerja pabrik, namun juga mereka yang ada di kantor dan gedung ber-AC, pusat perbelanjaan, ruang nstru, atau pusat-pusat layanan kesehatan, dan sebagainya. Karena relasi kerja-upahan tidak saja eksis di pabrik, namun di berbagai tempat. Kelas proletariat, seiring perkembangan kapitalisme, melingkupi para kerah putih di bank, karyawan departemen store, satpam, perawat hingga juru parkir kantor korporasi.
Proletariat dalam Hingar Bingar Pabrik Sosial
Konsepsi atas proletariat mesti mempertimbangkan konteks sejarah dan aktualnya. Dulu yang dimaksud proletariat adalah mereka para buruh pabrik, karena pada zaman tersebut pabriklah satu-satunya tempat dimana terdapat kelas proletar. Lalu kemudian juga muncul kantor, setelah berkembang perusahaan non-manufaktur. Dan seterusnya, saat kapitalisme terus berkembang menciptakan lapangan kerja baru dengan model dan variasi beragam. Saat ini, tatanan sosial telah dikonversi oleh kapitalis menjadi sebuah Pabrik Sosial, dimana seluruh aktifitas hidup manusia diperuntukkan untuk mengakumulasi kapital dan semua dimensi kehidupan adalah rangkaian dari proses produksi. Artinya, para pekerja bukan saja mereka yang di pabrik, atau kantor, tetapi seluruh masyarakat. Bukan pula terbatas hanya yang diupah, atau yang produktif saja. Sektor nstrume, atau kalangan pengangguran yang tidak masuk dalam klasifikasi klasik, dalam Pabrik Sosial juga turut berkontribusi dalam pengakumulasi kapital.
Intinya, proses penciptaan nilai-lebih (sebagai basis kapital baru), tidak lagi hanya berlangsung di tempat kerja, tetapi meluas hingga ke level sosial. Di unit sosial terkecil yaitu keluarga, penciptaan kapital dan tenaga kerja baru diproses disini. Keluarga menciptakan calon pekerja masa depan. Mendidiknya, menyekolahkannya, mendisiplinkan dan memberikan gambaran hidup dan nilai apa yang ‘normal’ kepada anaknya: bekerja. Khususnya perempuan, mereka melayani suaminya agar dapat kembali bekerja keesokan harinya, mendidik calon pekerja.
Mahasiswa atau pelajar, bukan lagi belajar untuk menjadi manusia. Tetapi untuk memudahkan mencari pekerjaan dan diupah tinggi. Karena orientasinya ini, mahasiswa tidak lebih sebagai proletariat yang dalam masa training untuk memasuki dunia kerja sesungguhnya. Kampus menjadi persemaian nilai baru, dan komoditinya adalah pelajar itu sendiri, yang tidak memiliki kuasa sedikitpun dalam mengontrol proses dan orientasi belajarnya.
Para pengangguran diciptakan sedemikian banyak, agar posisi tawarnya rendah saat mencari pekerjaan oleh karena terbatasnya lapangan kerja. Berbagai aturan dan paket kebijakan ekonomi disusun dengan memanfaatkan populasi penganggur sebagai nstrument. Kesemuanya ditujukan agar perekonomian tetap stabil. Para pensiunan, atau para jompo kadang ditunjang Jaring Pengaman Sosial guna menyokong mereka untuk tetap produktif. Hal ini menguatkan tesis Marx tentang ‘pekerja cadangan’ dimana akumulasi juga bermakna akumulasi ‘pekerja cadangan’ dan ‘pekerja aktif’ dan semua yang bekerja dalam rangka mereproduksi kelas.
Dari sini bisa kita lihat bahwa yang dimaksud Pabrik hari ini, adalah bukan semata pabrik fisikal. Tatanan sosial secara keseluruhan ini termasuk institusi sosial, nilai-nilai, orientasi dan keseluruhan yang mereproduksi kelas adalah Pabrik Sosial. Dengan demikian, definisi tentang siapa proletariat itu mesti mengambil rujukan pada basis historis yang berjalan sekarang. Artinya kelas pekerja mesti dimaknai ulang ! Merekalah para pekerja pabrik, petani, kaum miskin perkotaan, ibu rumah tangga, mahasiswa, serta seluruh kelompok yang didominasi oleh sistem uang dan kerja.
Menyadari hal tersebut, defenisi proletar adalah sesuatu yang penting untuk menguak ilusi-ilusi yang sengaja dibangun untuk melemahkan kekuatan kelas proletar. Pelemahan ini dilakukan untuk meredam potensi revolusioner yang dikandung oleh kelas proletar sebagai kekuatan yang paling potensial menghancurkankan kapitalis dan kapitalismenya. Dengan demikian juga istilah proletariat menjadi penting untuk meninggalkan perdebatan dan pengkotak-kotakan antara mereka yang menganggap diri buruh, karyawan, pegawai, pekerja, dan menyatukan dalam satu definisi: proletariat.
Label: Jurnal, Jurnal 2, Kelas Pekerja, Pabrik Sosial, Proletariat, Redefinisi
SEKALI LAGI TENTANG INSTITUSI SOSIAL
oleh : Nelson Al Qasy Seringkali kita menganggap institusi sosial seperti sekolah, pusat layanan kesehatan, media massa dan lainnya, adalah wadah untuk memediasi kepentingan orang banyak entah itu menyakut soal kesehatan, peningkatan kualitas pengetahuan dan lainnya. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa dalam memediasi kepentingan orang banyak tersebut ada tujuan-tujuan lain yang kasat mata atau 'terselubung' secara langsung ikut berjalan? Atau justru kenapa ada pertanyaan semacam ini?
Institusi sosial layaknya sebuah pondasi yang direhabilitasi secara permanen guna mempertahankan sebuah sistem dominan/tatanan global yang berjalan dalam aktivitas keseharian masyarakat umum. Pandangan umum tentang manfaat dari institusi sosial mungkin tak perlu dijelaskan disini karena telah dijelaskan melalui berbagai media dan kita pun mungkin sudah mengetahuinya. Tapi kita perlu menyelidiki mengenai apa yang terselubung dan logika yang terkandung dalam institusi sosial sebagai suatu perangkat yang mendukung terjadinya ketimpangan dan keterpurukan dalam berbagai bentuk saat ini.
Sekolah sebagai Pabrik Tenaga Kerja
Sekolah berfungsi mengkanalisasi aktifitas transformasi pengetahuan ke dalam bentuk aktifitas akumulasi kapital. Atau dalam bahasa populernya sebagai sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa, yaitu 'jasa pengetahuan'. Jika pengetahuan dirasa abstrak, mungkin lebih konkrit jika kita katakan bahwa komoditas atas jasa pengetahuan dari perusahaan tersebut adalah 'hal-hal yang berpengetahuan'. Para Presiden, hakim, para jendral militer, para korporat, atau politisi dan masih banyak lagi yang bisa disebutkan adalah produk yang dibuat oleh sekolah. Mereka terbukti sampai saat ini tidak menghasilkan loncatan kualitas dan transformasi pengetahuan yang otonom dan merata kepada banyak orang.
Keahlian menjadi presiden, hakim, jendral militer jelas sangat dibutuhkan oleh Negara untuk menjaga stabilitas sosial agar relasi Kapital dapat terus berlangsung tanpa jeda. Tujuan bersekolah bukan untuk memperoleh loncatan kualitas pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik, tetapi adalah sebuah keharusan untuk mempersiapkan calon-calon pekerja masa depan. Persis modus Politik Etis di awal abad 20 yang menipu untuk mencerdaskan masyarakat, namun pada intinya untuk merekrut tenaga-tenaga administratif siap pakai untuk memperkuat penjajahan atas masyarakat itu kembali. Dan dewasa ini, calon pekerja tersebut dididik mulai dari sekolah dasar sampai masuk universitas untuk memahami dan mengimplementasikan pengtahuannya agar kelak di kemudian hari dapat mengisi posisi dalam sistem dominan.
Dalam konteks Pabrik Sosial, sekolah memproduksi tenaga kerja sebagai komoditinya. Merekalah para lulusan dan sarjana yang kemudian dijajakan untuk dipakai demi kelancaran akumulasi kapital (baca: dunia kerja). Sekolah juga berfungsi sebagai tempat pembuatan nilai jual (valorization) melalui rasio akademis, dimana lulusannya dinilai dan distandarisasi berdasarkan hal tersebut. Tentunya, di sekolahlah tempat para pekerja masa depan diciptakan. Mereka dibentuk, didisiplinkan dan disetting sesuai kebutuhan kapital. Para pelajar dan mahasiswa bekerja dengan cara belajar sebuah pengetahuan, untuk menciptakan dirinya sebagai komoditi unggul. Kepintarannya tidak ada hubungannya dengan kehidupan atau masyarakat, namun pada seberapa berkontribusinya mereka dalam pengakumulasian kapital.
Sekolah adalah pusat penyaringan sosial, kaderisasi dan pelatihan bagi para pekerja. Pekerja yang belum ahli dan tidak memiliki kesiapan beradaptasi di dunia kerja akan dididik, didisiplinkan dan disuntikkan nilai serta orientasi hidup yang relevan dengan akumulasi kapital. Sekolah adalah mesin cetak yang baik untuk menghasilkan pekerja-pekerja yang penurut dan tidak memiliki keinginan untuk bebas dan merengkuh hidupnya.
Media Massa sebagai Pabrik Opini dan Kanal Kebenaran
Tidak dapat dipungkiri bahwa menghadang deras arus informasi saat ini adalah sebuah hal yang terlampau percuma dilakukan. Ini mengacu pada sifat paradoksal dari teknologi informasi itu sendiri. Satu sisi teknologi menjadi rantai penunjang bagi sistem dominan saat ini, tapi di sisi lainnya secara tak langsung menyediakan lintasan peluru bagi dirinya sendiri. Arus informasi yang begitu massif memang tidak dapat dibendung tapi hal ini bisa diarahkan dan dialihkan. Proses pengalihan tersebut membutuhkan perangkat/institusi yang khusus menangani bidang ini. Nah, disinilah media memiliki peranan yang sangat vital dalam menjaga opini termasuk juga menyensor dan memasung informasi yang terbangun di masyarakat.
Tugas-tugas hegemoni dijalankan dengan baik oleh media massa, tidak pemaksaan yang kasat mata akan tetapi dimediasi lewat proses komunikasi yang sungguh massif. Media massa berguna untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan/yang dianggap penting oleh pasar yaitu semua jenis informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat yang hidup dalam budaya dominan.
Media massa adalah alat kapital untuk selalu menjaga stok opini untuk membangun pola pikir yang terkontrol, terjajah dan terdisiplinkan. Yaitu untuk menjaga masyarakat agar tetap berfikir normal, orang tidak merasakan kemungkinan adanya individu yang berfikir lain bahwa 'ada yang salah dengan dunia ini'.
Media massa adalah mesin dalam pabrik sosial, yang memproduksi keinginan yang tidak dibutuhkan demi kelancaran konsumsi dan akumulasi kapital. Masyarakat non-kapitalis ditransformasikan menjadi masyarakat kapitalis yang berlandaskan jual-beli dan kerja upahan lewat gencarnya informasi yang mendominasi pemahaman kolektif.
Pusat layanan kesehatan sebagai reservasi tenaga pekerja
Hampir semua orang tahu bahwa untuk mendapatkan layanan kesehatan saat ini mesti melalui transaksi jual-beli yang rumit. Kita jangan menipu diri sendiri, contoh yang paling sering kita jumpai misalnya dalam rumah sakit, layanan kesehatan yang diberikan bukanlah berdasarkan diagnosis penyakit tapi lebih pada kemampuan seorang secara finansial dan strata sosialnya di masyarakat. Kesehatan bukan lagi dalam tujuan meningkatkan kualitas hidup, namun tak lebih sebagai komoditas sekaligus pit stop bagi para pekerja yang kendor dan mesti di-charge agar terus dapat bekerja. Tatanan sosial mesti selalu stabil untuk menjaga proses perputaran modal. Pekerja yang sakit dapat menghambat dan mempengaruhi proses produksi dan akumulasi. Karenanya diperlukan pemulihan, bukan dalam tujuan menjadikan kualitas hidup kelas pekerja lebih meningkat tapi dalam rangkaian menjaga agar mereka dapat terus menerus bekerja dan bekerja. Layaknya mobil, saat mogok harus dikirim ke bengkel untuk diservis agar dapat kembali berfungsi. Dan bengkel yang sering kita datangi saat sakit adalah Rumah Sakit. Rumah sakit membuat pekerja kembali berfungsi mengakumulasikan kapital demi kapital untuk para majikan.
Organisasi sosial sebagai kanal ekspresi dan polisi moral
Partai politik, LSM, lembaga kebudayaan, lembaga keagamaan dan hukum dan lain sejenisnya memiliki fungsi dan tujuan dasar yang secara khusus tidak berbeda dari institusi sosial sebelumnya awal yaitu, sebagai salah satu roda penggerak sistem dominan (pabrik sosial) dan menempati salah satu bagian paling vital dalam struktur kenegaraan untuk proses ideologisasi. Perangkat inilah yang digunakan untuk mengarahkan, membentuk, memasung, melenyapkan, mengkanalisasi semua bentuk kehidupan agar berjalan sesuai dengan hukum-hukum kapital dan otoritas yang pada akhirnya membuat keduanya (Negara dan kapital) tampak kelihatan wajar adanya. Ekspresi politik mesti diarahkan ke partai politik, hasrat peduli ke LSM, patokan norma dan benar-salah ada di lembaga keagamaan dan hukum, atau kegiatan berkesenian dinaungi lembaga kebudayaan. Kesemuanya diorganisir untuk tetap menjaga agar proses-proses berpolitik, bersolidaritas sosial, berkesenian, atau menjalani kehidupan spiritual dan religious tetap relevan dan tidak berseberangan dengan proses akumulasi kapital.
Relasi negara, institusi sosial dan kapital
Negara mengandung logika merawat diri. Kekuasaan yang terkandung di dalamnya akan senantiasa dijaga tak peduli siapa pun yang memegang kekuasaan. Selain eksis karena adanya dimana sebagai alat perpanjangan tangan oleh dominasi kapital melalui perangkat kekerasan (militer, peradilan dan polisi) maupun ideologisnya (sekolah, lembaga keagamaan, lembaga sosial). Institusi sosial yang ada adalah alat kekuasaan 'ideologis dan represif' sebagai respon material/kenyataan fisik dan historis yang berlangsung dalam masyarakat kontemporer. Ini juga salah satu kerja ekstra dari perangkat ini adalah mendekonstruksi hubungan sosial yang seharusnya horisontal menjadi hubungan vertikal dari bawah ke atas ataupun sebaliknya sehingga secara perlahan membentuk kerangka sistematis yang kokoh bagi suatu struktur kekuasaan yang ada. Hanya dengan model seperti ini Pabrik Sosial dapat tegak dan terus berproduksi.
Kebutuhan akan informasi dalam bentuk tranformasi pengetahuan dimediasi oleh lembaga pendidikan, kebutuhan spiritual dan rohani dilembagakan dan dipisahkan dari jiwa manusia yang otonom agar sesuai dengan logika kapital dan kekuasaan. Untuk melindungi dan menjaga stabilitas serta keamanan bagi proses kapitalisasi kehidupan dibuatlah lembaga hukum yang mengatur segala bentuk perilaku sosial dan politik masyarakat yang hidup dalam Negara. Institusi militer bertugas mengancam dan merepresi, bahkan meniadakan setiap aktifitas yang mengancam stabilitas ekonomi, politik dan sosial Negara.
Dalam pabrik sosial, semua institusi sosial telah ditranformasikan sebagai alat untuk menjaga agar rutinitas kerja, kemonotonan hidup, kemiskinan filsafat serta kebosanan-kebosanan lainnya sebagai satu fonomena yang biasa-biasa saja dan tak butuh penghancuran. Institusi sosial menjaga agar negara dan kapital tetap eksis, karena hanya dengan kolaborasi tersebutlah mesin-mesin dalam pabrik sosial dapat terus mengakumulasi kapital. Hal ini dalam kaitannya dengan Negara adalah mencoba membalik logika kontradiksi pokok (penghapusan kelas dan hirarki dalam kehidupan dan pengabolisian kapital ) dan kontradiksi dasar (sandang, pangan, dan papan) menjadi sebaliknya. Yaitu mencoba seolah-olah memenuhi kontradiksi dasarnya saja yang salah satunya diwadahi oleh institusi sosial dan menutup tabir kontradiksi pokok.
Kontradiksi pokok bukanlah menjadi kebutuhan Negara melainkan menjadi kebutuhan bagi tiap individu yang hidup dalam Negara beserta segala benturan dan kompromi yang dialaminya. Karena dengan terpenuhinya kontradiksi pokok, Negara tak lagi dibutuhkan oleh tiap pelaku aktifitas kehidupan entah itu manusia ataupun makhluk hidup lainnya.
Langkah coba-coba bukanlah cara yang buruk untuk mempelajari bagaimana cara membuat pesawat terbang, tapi bisa menjadi cara yang sangat berbahaya untuk mempelajari bagaimana membangun sebuah peradaban (Daniel Quinn)
Label: Jurnal, Jurnal 2, Kelas Pekerja, Pabrik Sosial
SEBUAH SENTRAL BERNAMA KELUARGA
oleh : Alisa Dita Manimpian
Adalah hal yang biasa dari gambaran sebuah keluarga, mereka yang bernaung di bawah atap yang sama, memijakkan kaki di lantai yang sama namun tak banyak waktu untuk bertemu, berkumpul dan berbagi kasih. Suami disibukkan dalam tugasnya menjadi tulang punggung dengan bekerja, dan istri sebagai pengelola rumah tangga menghabiskan waktu untuk urusan domestik. Sedangkan sang anak disekap di ruang kelas sekolah atas nama mempersiapkan masa depan.
Ya, inilah gambaran sebuah keluarga modern yang umum kita temui. Relasi-relasi sosial dan hubungan emosional di dalamnya ditransformasikan sedemikian rupa sebagai aktifitas 'Kerja'. Tidak lagi sekedar urusan domestik, keluarga menjelma menjadi mesin dalam pabrik sosial. Terutama perannya dalam merawat tatanan kerja, pekerja dan mereproduksi calon pekerja. Keluarga adalah sentral dalam pabrik sosial yang memegang berbagai macam fungsi lewat spesialisasi masing-masing peran.
Suami (terkadang pula istri) menjual tenaga sebagai pekerja, bekerja langsung pada kapital. Sementara istri sang ibu rumah tangga sebagai pekerja tak diupah yang dapat melakukan berbagai macam pekerjaan yang menguntungkan kapital. Melayani suaminya, sang pekerja, baik secara fisik, psikologis, emosional, maupun seksual. Semua ini dilakukan demi menjaga vitalitas pekerja agar keesokan harinya dapat berangkat bekerja dan tetap produktif menghasilkan kapital bagi majikannya.
Ibu rumah tangga juga melahirkan, memberi makan dan merawat serta mendidik anaknya calon pekerja masa depan. Memberinya nilai dan orientasi hidup, rantai yang menjaga agar generasinya tetap relevan dalam tatanan kapitalistik.
Sebuah spot komersial di televisi sebut saja “Fatig....” sejenis obat suplemen, menggambarkannya dengan gamblang. Seorang perempuan yang sedang melakoni beberapa pekerjaan sekaligus, sebagai guru les, sebagai koki, dan sebagai konsultan keuangan. Sebuah ilustrasi akan lakon seorang istri dalam sebuah keluarga, dan pesan yang ingin disampaikan Iklan tersebut adalah mereka (para istri) membutuhkan sebuah suplemen atau tambahan energi agar tetap sehat dan fit untuk bisa menyokong setiap peran-perannya, sehingga tetap bekerja dengan penuh segar dan menebarkan senyum seperti bintang iklan tersebut, kemudian memuji diri “anda luar biasa”. Menjadi koki yaitu menyiapkan dan kebutuhan makan dan memasak untuk keluarganya, sebagai guru les yaitu mendidik anak-anaknya untuk jalan masa depan serta sebagai konsultan keuangan yaitu mengatur keuangan atau ekonomi keluarga ke semuanya adalah peran-peran luar biasa namun telah menjadi aktivitas keseharian yang terus berjalan.
Ya inilah hal luar biasa yang dijalankan kapitalisme, mampu memainkan peran-peran keluarga tersebut menjadi aktivitas yang secara tidak langsung turut berkontribusi dalam reproduksi kapital.
Dalam keluarga istri adalah pelayan dan perawat bagi pekerjanya (suami) namun dalam pabrik sosial istri adalah pekerja itu sendiri sebagai tenaga kerja tak diupah lewat peran hariannya yang justru menjadi lebih nilai lebih dalam sistem kapital. Dan mengkonsumsi suplemen yang ditawarkan dalam berbagai produk iklan yang pasti bukan solusi.
Keluarga memainkan peran penting bagaimana narasi kerja tetap tak tergugat. Sebagai sentral dalam pabrik sosial, keluarga selain merawat para pekerjanya terus pula mereproduksi tenaga kerja, sebagai pemasok dan menyiapkan calon-calon tenaga kerja baru. Di sinilah anak dalam keluarga dipersiapkan sebagai calon pekerja masa depan. Kapitalis tak perlu membuat sebuah institusi khusus untuk merawat calon-calon pekerjanya.
Keluarga adalah institusi ideal yang dikonstruksi untuk menjadi mesin penghasil dan perawat calon pekerja. Anak sebagai generasi pelanjut keluarga, sejak kecil telah ditanamkan pada orientasi masa depan lewat gambaran karir. Keluarga terus menuntun anak pada cita-cita yang menggambarkan sebuah kesuksesan. Dokter, polisi, pengusaha, pejabat adalah sekian yang mewakilkan kesuksesan tersebut. Kesuksesan untuk mampu meraih banyak kapital. Semua norma disetting untuk selaras dengan kaidah kapital, seorang anak yang malas bersekolah akan dicap sebagai orang yang gelap masa depannya, seorang yang tidak bertitel akademik, atau memiliki pekerjaan dengan gaji minim hanyalah remah-remah dalam sistem sosial. Anak layaknya sebuah investasi masa depan, sejak kecil mereka dipersiapkan menjadi calon pekerja, memasukkannya dalam institusi pendidikan, jalur formal bagi pencapaian cita-cita.
Suami terus menjual tenaganya untuk dapat membiayai sekolah anaknya sampai jenjang terakhir, Istri sebagai Ibu rumah tangga adalah yang melahirkan, menyusui dan memberi makan anak-anaknya, merawat, menjamin kesehatannya, mendidik, mengantarnya ke sekolah, dan menuntun dalam perjalanan pencapaian karirnya. Dan anak tetap menyiapkan dirinya sebagai pekerja, gambaran cita-cita yang tertanam sejak kecil adalah harapan penyemangat, belajar dan terus mengembangkan diri, berprestasi, mengikuti aktivitas tambahan yang mendukung (kursus, dll.), anak terus ditanamkan untuk seminimal mungkin bermain dan mengisi waktu mereka untuk belajar dan hal-hal lain dipandang lebih bernilai untuk bekal masa depan.
Inilah gambaran sebuah siklus kapital yang terus berjalan dalam sebuah keluarga, fungsinya sebagai sentral dalam pabrik sosial. Generasi dalam keluarga akan mengulang hal yang sama. Segala relasi sosial telah ditranformasikan untuk mengambil alih estafet, menjelma menjadi institusi yang terus mereproduksi kapital dan kebutuhan-kebutuhannya. Keluarga yang telah menyimpang dari ikatan sosial antara individu-individu di dalamnya bahkan menjadi pusat bagi regenerasi para pekerja-pekerja baru yang berjalan untuk satu tujuan yakni tegaknya kapitalisme. [] Label: Domestikasi, Jurnal, Jurnal 2, Pabrik Sosial
OTONOMI VS OTORITAS
oleh : Bahar Dg Lontang & Josh Al Diwani
Dalam kehidupan modern, dominasi kapitalisme semakin kompleks merias diri. Pengaburan makna setiap kegiatan kerja keseharian serta pergeseran esensi akan kehidupan adalah sesuatu hal yang pasti. Dimana seluruh kehidupan tersubordinasi kemudian diproyeksikan hanya pada kerja, kerja, dan kerjayaitu kerja-upahan, dalam tataran memproduksi komoditas. Pabrik dimana kelas pekerja melakukan aktifitas kerja tak lagi terhalang sekat-sekat dinding industri manufaktur namun dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan telah berwujud Pabrik Sosial. Hal ini menandakan sistem dominan hari ini dengan segala tendesinya mengabolisi otonomi setiap individu dan mensubordinasikannya pada kerja. Fase manufakturisasi dalam kehidupan keseharian ini secara keseluruhan mereduksi banyak hal yang pada akhirnya komunikasi antar individu dalam kelompok sosial juga tersingkirkan.
Jika pabrik sosial hanya menggiring kita pada proses reproduksi kapital dalam aktifitas kehidupan sehari-hari tanpa sadar, lalu jalan apa yang musti ditempuh untuk keluar dari kungkungan tatanan pabrik sosial? Tawaran non-otoritarian dapat berupa pengedepanan otonomi kelas pekerja dalam penghancuran otoritas yang telah memenjarakan hidup ini.
Harry Cleaver menguraikan Otonomi Kelas Pekerja, setidaknya dalam empat hal :
A. Swa-aktifitas Kelas Pekerja versus Kapital. Swa-aktifitas (self-activity) adalah strategi perlawanan kelas pekerja dengan melakukan sesuatu di luar konteks Kerja Upahan, atau tidak ada hubungannya dengan Kerja yang bertujuan menghalang-halangi dan menghambat proses akumulasi kapital. Saat berada dalam relasi kerja dimana kelas pekerja diintegrasikan dalam sistem kerja, otonomi kelas pekerja tidak eksis dan tidak memiliki otonomi untuk melakukan sesuatu berdasarkan kehendaknya, melainkan tetap patuh dalam otoritas majikan kapitalis. Satu-satunya cara mencapai otonomi tersebut adalah dengan cara mengembangkan aktifitas-aktifitas yang tidak ada hubungannya dengan konteks kerja, bahkan dapat mengacaukan proses produksi. Swa-aktifitas memutus relasi kapital, yang lalu dapat ditransformasikan menuju penghancuran kapital. Sabotase, pemogokan, pembangkangan dan aksi langsung lainnya memberikan keleluasaan kelas pekerja untuk menggunakan kekuatannya dalam menghadapi penindasnya.
B. Otonomi Kelas Pekerja versus Serikat Pekerja Salah satu masalah utama yang dihadapi kelas pekerja adalah masih eksisnya serikat-serikat pekerja birokratis yang terkadang di back-up oleh partai politik atau malah sengaja dibentuk oleh pemodal sendiri guna mengintervensi pengambilan keputusan dalam serikat pekerja. Parahnya serikat pekerja inilah satu-satunya bentuk organisasi yang dikenal oleh kelas pekerja. Yang terjadi, kelas pekerja kehilangan otonominya sebab serikat pekerja hanya menjadi alat dari kapital untuk menekan kelas pekerja melalui pimpinan atau elit-elit organisasinya. Serikat pekerja tidak menjamin kebebasan kelas pekerja. Ini terutama pada serikat-serikat birokratis yang hirarkis dimana seluruh keputusannya berada di tangan elit dan pimpinan organisasi dan kontrol yang minim dari bawah.
Untuk merebut otonomi, kelas pekerja mesti melampaui birokrasi-birokrasi yang hanya menjadi penghalang kebebasan dan perintang langkah pekerja melakukan perlawanan. Sebuah organisasi kelas pekerja mesti mengusung otonomi kelasnya, dan mesti berhati-hati atas segala birokrasi dalam strukturnya yang seringkali mengatasnamakan 'disiplin revolusioner' maupun 'kesatuan tindakan'. Hanya kelas pekerjalah yang mampu membebaskan dirinya, bukan elit pimpinan.
C. Otonomi Kelas Pekerja versus Partai Politik Pandangan tipikal yang berkembang adalah kelas pekerja tidaklah cukup mampu menghancurkan kapital, oleh karenanya butuh 'kepemimpinan' partai revolusioner pelopor dan sejenisnya untuk mengarahkan pekerja menuju revolusi. Masalahnya, partai politik kadang merasa lebih memahami persoalan yang dihadapi kelas pekerja, sehingga merasa berhak menentukan langkah apa yang terbaik dan paling benar.
Oleh karena model otoriter yang terkandung dalam setiap partai politik, maka sentralisme dalam pengambilan keputusan juga tidak luput. Kelas pekerja tidak akan bermakna apa-apa selain menjadi sekumpulan ternak yang bersedia digiring kemana sang gembala inginkan. Apa yang seringkali terjadi justru adalah penghianatan demi penghianatan yang dilakukan pimpinan partai, atau menghambat bagaimana kelas pekerja menentukan nasib sendiri. Semua ini dilakukan atas nama perjuangan tersebut adalah bukti bahwa kelas pekerja mesti menjaga otonominya. Para proletariat dapat mengembangkan sebuah organisasi atau model yang fungsinya memberikan edukasi dan advokasi pada anggotanya, tanpa tendensi mengarahkan atau mengembalakan kelas pekerja atau pola birokratis, sentralistik dan hirarkis.
D. Otonomi antar Kelas Pekerja Keseluruhan kelas pekerja, yaitu mereka para proletariat modern yang mencakup buruh, karyawan, ibu rumah tangga, mahasiswa, pengangguran dan sebagainya juga perlu senantiasa menjaga otonomi masing-masing. Otonomi antar kelas pekerja ini sangatlah penting dalam pencapaian harmoni sosial yang lebih luas.
Otonomi tersebut juga merangsang kelas pekerja untuk memajukan kesadarannya, menentukan keputusan apa yang terbaik, melaksanakan proyek-proyek lintas komunitas yang diperlukan seperti membangun radio komunitas, mendirikan surat kabar, pendistribusian makanan, pelayanan publik, mengorganisir sekolah, klinik, mendukung pendudukan lahan, dan sebagainya. Kesemua itu dilakukan untuk melawan institusi sosial yang telah eksis dan mentransformasikan masyakat menjadi non-kapitalis.
Dengan membangun kelompok kelas pekerja swa-aktifitas dan non-hirarkis serta penghancuran struktur birokratis di dalamnya dapat menjamin keterputusan pengambilan keputusan secara horizontal, yaitu pengambilan keputusan sepenuhnya berada di bawah kontrol pekerja itu sendiri tanpa terjebak bentuk birokrasi dalam pengambilan keputusan serta langkah-langkah pekerja untuk melakukan perlawanan.
Otonomi kelas pekerja merebut faktor produksi mesti dilanjutkan dengan swa-kelola agar relasi sosial tidak direproduksi seperti yang direproduksi dalam Pabrik Sosial. Kelas pekerja tidak ada pilihan lain kecuali mengorganisir diri mereka sendiri membentuk kelompok/dewan pekerja dan secara langsung mengambil alih ekonomi dan semua aspek yang mencakup rekonstruksi dari hidup kemasyarakatan, menyatakan otonomi mereka vis - à - vis terhadap sistem apapun yang melegalkan berbagai bentuk kepemimpinan representatif, negara atau serikat dagang, dan penyatuan diri mereka dengan satu sama lain dalam regional dan seluruh negara. Semua ini bergantung pada kesadaran kelas pekerja dan kapasitas untuk membangun organisasi otonomi.
Pekerja dapat mendirikan kelompok/federasi yang terdesentrailsasi dari dewan komunitas dan tempat mereka bekerja. Sehingga dewan pekerja ini terbentuk penyetaraan di dalamnya (demokrasi partisipatoris), dimana semua orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam bersuara dalam penentuan arah kelompok/komunitas. Biasanya para pemimpin perserikatan juga puas dengan kebutuhan hanya menemukan bahwa mereka tidak dapat “memenangi” jauh lebih pada kerangka dari ekonomi yang sudah ada, tapi bahwa mereka dapat melakukan pengambilan segalanya dengan mentransformasikan semua basis dari ekonomi atas diri mereka sendiri.[]
Label: Jurnal, Jurnal 2, Otonomi, Pabrik Sosial
|
|
|