Jumat, 10 Oktober 2008

REDAKSIONER

Editorial Jurnal #3 September 2008
Dalam sebuah koloni semut, sebagaimana digambarkan dalam kisah distopis ‘Antz’, tak satu pun semut pekerja yang memiliki gambaran akan hidup yang lain, selain yang dilakoninya hari demi hari. Hingga suatu hari, Z-4195 - salah satu dari semut, keluar dari sarang dan mendapati dunia lain yang tak pernah hadir dalam imajinasinya sekalipun.

Tak satupun semut lain yang percaya bahwa ada sebuah kehidupan yang lebih indah dan rasional dari yang sedang mereka jalani, selain mengganggap Z-4195 sedang berkhayal. Meski pada akhirnya, seiring waktu dan terdorong atas alienasi, kemonotonan dan penderitaan atas kehidupan yang membelenggu, ucapan Z-4195, “adalah pekerja yang mengontrol produksi”, menemui kebenaran.

***

Dalam masyarakat luas, mencakup pula mereka para aktifitas radikal, gambaran dunia ideal terbatas pada apa yang pernah dan selalu dijejalkan padanya. Takkan ada bayangan sama sekali tentang bagaimana sebuah kehidupan lain dari saat ini, di luar dari apa yang pernah mereka diberikan.
Sejak kecil hingga sekarang, bahkan sejak peradaban ini dimulai, kita selalu dijejali takkan bisa hidup normal tanpa kekuatan yang mengatur dan mendikte hidup kita, diluar kekuatan kita sendiri untuk hidup dengan masyarakat dan lingkungan kita. Dan secara sosial hal tersebut mengendap dan bertransformasi menjadi sebuah moralitas baku -moralitas budak, yang enggan bebas dan tidak percaya dengan dunia di luar apa yang mereka ketahui.
Jurnal ini akan sia-sia saja, bagi sebagian orang. Tapi tidak bagi mereka yang lebih percaya keotentikan hidup daripada keyakinan membabibuta terhadap sesuatu.
Dari sebuah grup otonom anti-hirarki. Salam!
Makassar, di awal penghujan, September 2008

Label: , ,

TERPERANGKAP DALAM PABRIK TANPA DINDING

Editorial Edisi #2

Tak banyak yang hendak kami sampaikan dalam kolom ini. Dikerjakan bertepatan setelah beberapa hal darurat terjadi di kolektif kami. Dengan tensi yang sedikit berbeda, kali ini kami ingin menemanimu menyeruput teh manis dengan sebuah topik tentang pabrik tanpa dinding. Yeah... sebuah penjara yang tak kunjung terlihat. Tuntutan demi tuntutan, slogan demi slogan yang diperjuangkan tak mampu menembus penjara ini, bahkan semakin menebalkan dindingnya.

Ishmael membuka wacana awal tentang konstruksi sosial yang menurut kalangan otonomis dan anti-otoritarian kontemporer disebut sebagai Pabrik Sosial. Analisis penting datang dari Alisa yang menguliti ‘keluarga’ sebagai narasi tak tergugat. Lalu Nelson membeberkan instrumen dan mesin-mesin dalam Pabrik Sosial berupa institusi sosial. Konsekuensi perpsektif dan sudut pandang atas Pabrik Sosial dikupas duet Alfonso dan Ali Topan, yakni memahami dan mendialektiskan pemahaman kita atas makna proletariat hari ini. Si Cakep Maximus Celeste membingkai kehidupan harian kita-para pekerja, sebagai contoh keterjebakan yang massif atas tegaknya kapitalisme. Dan akhirnya Bahar dan Josh menawarkan sebuah alternatif dan referensi gerakan anti-kapitalis non-otoriter sebagai rujukan gerakan lokal melawan neo-liberal.

Akhirnya, selamat menikmati hidupmu dan Panjang Umur Proletariat!

Label: , ,

EDITORIAL : MIMPI-MIMPI KAMI TAKKAN MUAT DALAM KOTAK SUARA MEREKA

Tahun baru. Berbagai daerah di Indonesia akan dihibur oleh pertunjukan keliling layaknya kontes idola di televisi. Memilih bupati baru atau gubernurnya secara langsung. Setelah kemarin mereka juga memilih presiden dan wakil-wakilnya di parlemen, para terpilih telah duduk manis di kursinya masing-masing dan pemilih kembali ke rutinitas hariannya.

Tahun baru. Adakah yang baru? Kini, slogan-slogan tentang pendidikan dan kesehatan gratis yang dulunya radikal dan terkesan subversif, sekarang telah menjadi program favorit para politisi. Survival of the chickest. Yang paling jago mengemas dirilah yang akan menjadi pemenangnya.
Anak pertama ini adalah buah cinta kami yang lahir dengan penuh kasih dan canda tawa, serta rasa lelah tak terkira. Adalah hasil dari dialektika dalam rentang waktu tertentu, yang sempat menjelma menjadi frustasi setelah mendapati kenyataan bahwa sekumpulan orang yang menerikaan yel-yel yang sama, bergaya sama, memiliki watak yang sama, mengandalkan identitas yang sama, adalah kesimpulan dari sebuah perjuangan demokratis. Memulai langkah pertamanya dengan menyodorkan sebuah demitologisasi terhadap istilah paling populer bagi politisi, aktifis gerakan, dan aktifis calon politisi : demokrasi. Istilah ini berhamburan dari gedung parlemen hingga klub malam, dari media massa sampai gedung bioskop, lantas membuat maknanya semakin defisit dan dangkal.
Hidup di kota yang semakin hari semakin miskin makna ini, kami terjebak dalam tiga hal yang sekilas tak berhubungan tapi memiliki relasi kuat satu sama lainnya : Penggusuran warga miskin oleh Satpol PP, billboard yang menjajakan produk mahal yang tak mampu kami jangkau, serta kemuakan terhadap para politisi yang fotonya dipajang di jalan-jalan yang kami lalui setiap hari. Ketiganya hadir bersamaan dan saling menghadirkan!
Bukanlah saatnya mengumbar mimpi-mimpi tentang dunia lain atau sekedar teriak boikot pemilu, revolusi, tapi sekarang kami mengajak untuk berbicara tentang mengapa mimpi-mimpi tentang dunia yang bebas dan indah itu dianggap utopis. Tulisan-tulisan yang ada lahir dari ketidaksukaan akan pilihan yang ada. Persis seperti sebuah coretan di dinding kantor gubernur : kami bosan memilih!
Salama’

Label: , ,

Tanpa Hak Cipta (A) 2008. Tampilan terbaik gunakan browser open source. Kunjungi juga 'Kamerad Kontinum' :
Apokalips Affinitas komunitas merah hitam katalis Proyek Perpustakaan Libertarian Online